Audio

Audio

Pribadi yang Sehat adalah Kunci Relasi yang Sehat( II )

Kesiapan keharmonisan pernikahan harus dimulai sejak kita muda. Sebab kunci persiapannya adalah pribadi yang sehat dan pribadi yang sehat tidak muncul dengan sekejap. Pribadi sehat berarti: mengenal diri secara tepat, menerima masa lalu namun tidak terikat dengannya, tangguh menanggung kesusahan dan kreatif menyelesaikannya, menerima kelemahan orang dan menghargainya, memikul tanggung jawab atas keputusan yang diambil, memikirkan kepentingan orang lain sama seringnya dengan memikirkan kepentingan sendiri, bersedia belajar dan berubah serta mengalah, beriman bahwa Tuhan berkuasa dan memelihara hidup kita.

Pribadi yang Sehat adalah Kunci Relasi yang Sehat( I )

Kesiapan keharmonisan pernikahan harus dimulai sejak kita muda. Sebab kunci persiapannya adalah pribadi yang sehat dan pribadi yang sehat tidak muncul dengan sekejap. Pribadi sehat berarti: mengenal diri secara tepat, menerima masa lalu namun tidak terikat dengannya, tangguh menanggung kesusahan dan kreatif menyelesaikannya, menerima kelemahan orang dan menghargainya, memikul tanggung jawab atas keputusan yang diambil, memikirkan kepentingan orang lain sama seringnya dengan memikirkan kepentingan sendiri, bersedia belajar dan berubah serta mengalah, beriman bahwa Tuhan berkuasa dan memelihara hidup kita.

Pasangan Muda di Tengah Himpitan Pekerjaan dan Pelayanan( II )

Memiliki pemahaman bahwa pelayanan bukanlah Tuhan melainkan suatu aktifitas untuk melayani Tuhan, maka dengan pengertian ini kita dapat mengatakan bahwa sama halnya dengan pelayanan dan pekerjaan mengurus keluarga, memperhatikan dan mendidik anak merupakan perbuatan yang dipersembahkan untuk Tuhan juga. Ingat, untuk membangun keintiman dan keharmonisan keluarga dibutuhkan waktu yang lama dan siap sedia untuk membayar harga bagi hal ini.

Pasangan Muda di Tengah Himpitan Pekerjaan dan Pelayanan ( I )

Membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan pelayanan merupakan tantangan besar pasangan muda saat ini. Idealnya ialah kita bisa melakukan ketiga hal ini secara seimbang namun realita menuntut kita untuk menitikberatkan pada salah satu aspek. Ketika anak-anak masih kecil akan lebih baik jika kita mengutamakan keluarga dan memperhatikan mereka dengan melimpah.

Memanfaatkan Teknologi Informasi dalam Membesarkan Anak

Di era teknologi yang begitu berkembang ini, kita perlu mendidik anak agar ia dapat memakai barang-barang canggih ini secara bijak. Oleh karena itu kita harus memulai diri sendiri dengan cara bijak memakai barang-barang elektronik sehingga barang ini melayani kita, bukan dilayani oleh kita.

Pengaruh Teknologi Informasi Pada Relasi Pernikahan

Penggunaan smartphone yang berlebihan akan berpotensi: merenggangkan relasi pernikahan, member kesempatan untuk berelasi dengan orang lain secara rahasia, interaksi dengan anak berkurang dan menciptakan relasi yang sangat dangkal, dan bahkan kecanduan smartphone tidak dapat dihindari.

Investasi Orangtua? (II)

Anak bukan aset milik orangtua, namun milik Tuhan. Menjaga jarak yang sehat dengan anak yaitu menyadari bahwa “anakku bukan aku”, menjadi poin penting untuk menghindari perasaan kepemilikan ini. Di penghakiman terakhir setiap orangtua akan dimintai pertanggungjawaban: sudahkah mendidik anak seperti kemauan Tuhan?

Investasi Orangtua? (I)

Menghormati orangtua tidak boleh melanggar batasan Tuhan. Menghormati orangtua sebagai bagian dari perintah Tuhan bukan menjadi alasan orangtua untuk menggunakan anak sebagai sumber investasi di masa tua dan menjadi pemilik anak tersebut.

Komersialisasi Anak

Kesuksesan dan kebahagiaan anak harus diusahakan sejak kecil sehingga sedini mungkin anak didorong untuk berkompetisi dalam bidang mereka untuk mendapatkan uang dan penghargaan. Pemahaman ini berlainan dengan maksud Tuhan menciptakan anak tersebut. Anak bahagia dan sukses di masa depan hanya karena anak menghidupi panggilan khusus Tuhan dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

Iman Anak: Tanggungjawab Siapakah?

Fenomena orangtua yang menanamkan iman Kristen anak HANYA pada kegiatan Sekolah Minggu atau gereja dan sekolah Kristen, menunjukkan bahwa orangtua sedang tidak bertanggungjawab akan perannya sebagai wakil Tuhan bagi anak mereka. Jelas tertulis di Ulangan 6:7 “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anakmu.”

Halaman

Berlangganan RSS - Audio