
Artikel ini dipilih untuk mengenang Bp.Heman Elia, M.Psi., salah seorang narasumber Telaga yang telah pulang ke Rumah Bapa pada tanggal 13 April 2026
Mengajar Anak Berdoa
Aku Punya Adik
Berdoa sesungguhnya perlu kita ajarkan kepada anak sejak anak masih bayi, pada saat dia masih belum mengerti apa-apa. Misalnya waktu kita menggendong, kita mengajak mereka bercakap-cakap, atau juga kita selipkan doa-doa kita sehingga anak-anak meskipun belum mengerti tapi mereka menghayati suasana doa .
Yang perlu kita lakukan untuk mengajar anak berdoa:
- Yang pertama, kita perlu perhatikan adalah contoh dari orang tua lebih dulu. Meskipun anak-anak ini tidak mengerti berdoa, berkata-kata kepada sesuatu pribadi yang tidak kelihatan langsung, tetapi sikap berdoa mungkin itu yang perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu.
- Kita menanamkan sikap berdoa dulu waktu kecil dan ada baiknya ketika anak-anak mulai bisa berkomunikasi, anak-anak sudah mulai berkata-kata anak diajak untuk menghafal doa.
- Kita ajak anak-anak untuk mendoakan misalnya temannya, mendoakan kakak atau adiknya, mendoakan ayah atau ibunya.
- Kita juga bisa mengajarkan doa Bapa Kami, dan kita juga harus membiasakan anak untuk berdoa sesuatu secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja kepada Tuhan.
Dampak positif dari kita mengajarkan anak berdoa adalah dengan doa, anak selalu merasa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan dia tidak bisa lari dari hadirat Tuhan. Dan ketika dia dewasa ada kemungkinan dia akan mengingat masa-masa indah ini di mana dia berdoa bersama keluarganya, dia diajarkan untuk berdoa dan dia pasti akan mengingat hal-hal ini.
I Samuel 1 :27 – 28, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan."
Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak yaitu Samuel dan dia mengucap syukur kepada Tuhan dan saya kira sikap ini penting bagi orang tua yaitu bagaimana orang tua itu menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan.
Punya anak lagi itu sering kali merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Tapi apakah ini juga akan terjadi pada anak kita yang akan jadi kakak?
Belum tentu, dan kebanyakan anak akan mengalami stres, meskipun awalnya sebagian anak merasa senang.

Masalah yang banyak dialami orang tua adalah sang kakak menjadi lebih manja, cengeng, rewel, pemarah dan mengalami kemunduran perkembangan.
Perasaan semacam ini sudah hampir pasti akan timbul. Tugas kita adalah memberi pengertian yang justru tidak memerberat masalahnya, melainkan membantu anak melihat dari sudut pandang yang positif, bahwa kita tetap menganggapnya sebagai kekasih kita, sekalipun harus berbagi kasih dengan orang lain.
- Siapkan sang kakak menghadapi kelahiran adik.
- Ketika adik lahir, orang tua bergantian memberi perhatian pada masing-masing anak.
- Utamakan kakak di hadapan para tamu.
- Ajak anak Anda untuk membantu Anda.
Satu prinsip di sini adalah kita tidak boleh membuat anak merasa dibanding-bandingkan satu dengan lainnya, baik secara eksplisit maupun implisit. Prinsip lain adalah kita harus membuat anak merasa diperlakukan secara adil. Bukan berarti kita harus memerlakukan semua anak secara sama, melainkan kita perlu menyeimbangkan hak dan kewajiban setiap anak sesuai dengan usia mereka. Dengan demikian kita akan mengurangi problem iri hati antar saudara kandung.
Mazmur 133, "Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya".
Ringkasan T102 A+B
Oleh: Bp. Heman Elia, M.Psi. (Alm.)
Simak judul-judul "Orang Tua dan Anak" lainnya di www.telaga.org

PERTANYAAN :
Bp. Paul Gunadi,
Saya membutuhkan masukan, mudah-mudahan tidak mengganggu dan merepotkan Bapak. Apa nasihat untuk saya, Pak, jika ada salah seorang jemaat saya ingin memutuskan untuk pindah ke negara bagian lain dengan membawa seluruh keluarganya, karena beberapa alasan yang saya tahu (keluarga ini sangat tertutup dengan pendeta, juga dengan keluarga lain dalam gereja):
- Yang pasti akan tinggal bersama saudara dari istrinya yang suaminya adalah orang Amerika.
- Alasan pindah, karena istrinya mau sekolah lagi (usia mereka sudah sekitar 40 – 45 tahun, anak-anak mereka 2 orang, sudah ‘junior high’ dan ‘high school’, yang bungsu mau masuk TK), sedangkan selama tinggal disini, istrinya sudah beberapa kali ikut sekolah, tetapi tidak satu pun yang selesai. Sepertinya istrinys senang sekolah.
- Dua anak mereka sepertinya tidak mau pindah. Salah seorang anaknya memunyai masalah di sekolah (seperti yang pernah saya cerita kepada Bapak).
- Alasan berikut adalah mau pindah supaya istri dapat sekolah, suami akan mencari pekerjaan dan mereka akan "apply low income". Padahal disini mereka, suami istri memunyai pekerjaan yang bagus dan gaji yang lumayan.
- Sepertinya keputusan ini diambil, karena suami sudah putus asa dengan istrinya. Istrinya memunyai kemauan yang keras. Akhirnya suami mengatakan lebih baik saya diam, apa saja yang istrinya mau putuskan, silakan. Nanti apabila semuanya sudah berantakan, bisa dia mengetahui dan belajar sendiri. Begitulah kira-kira yang saya tahu, Pak. Semua teman-teman di gereja sepertinya terkejut dengan keputusan yang mereka ambil, tapi semua tidak berani bicara karena memang mereka sangat tertutup. Kita semua tahu dari anak-anak mereka yang berteman dengan anak-anak kami. Apa nasihat dan bagaimana sikap saya, Pak, sebagai hamba Tuhan? Terima kasih, Pak Paul.
Oh, ya, Pak Paul, maaf saya ganggu lagi. Apakah di Telaga ada bahan yang cocok untuk disampaikan di tengah jemaat, khususnya yang berbicara mengenai bagaimana bisa membaca/mengerti kehendak atau pimpinan Tuhan dalam pengambilan keputusan penting, juga masalah hubungan orang tua dan anak remaja, tapi yang cocok dengan situasi / kondisi / budaya di Amerika ?
Salam : R.L.
JAWABAN :
Bapak R.L.,
Mungkin ada hal lain yang menyebabkan mereka ingin pindah, tetapi besar kemungkinan mereka tidak nyaman untuk mengemukakannya. Tugas kita hanyalah mengingatkan mereka untuk :
- Memersiapkan semua ini dengan matang, sehingga akan dapat melanjutkan hidup di tempat lain itu secara layak dan
- memersiapkan kemungkinan kembali ke Los Angeles kalau rencana ini tidak berjalan sesuai harapan dan
- dampaknya pada anak, baik kepindahan ke sana atau jika tidak berjalan baik, pulang kembali ke sini.
Saya kira hanya sejauh itu kita bisa melangkah, Bapak R.L.
Saya pun ingin mengenalkan Bapak R.L. dengan seorang mantan misionaris di Madura, namanya Steve Campodonico. Beliau masih muda dan pernah melayani di Indonesia selama 10 tahun. Pada waktu anak kami melayani setahun di Indonesia, ia melayani bersama Steve juga di sana. Steve bergabung dengan gereja kami mulai bulan ini, melayani di kebaktian bahasa Inggris. Namun saya tidak ingin membatasi pelayanannya; saya ingin ia menjadi berkat untuk masyarakat Indonesia di Los Angeles, terutama untuk membangkitkan kepedulian terhadap misi Kristus di dunia. Jika Bapak R.L. ingin mengundangnya, silakan. Ia berbahasa Indonesia dengan fasih dan berkhotbah dengan baik sekali.
Di dalam buku "Following Jesus without dishonouring your parents", dikutip sebuah hasil survei yang mengungkapkan bahwa 97% orang Asian Americans adalah "unchurched". Dan. 75% American-born Chinese serta 90% Korean-Americans meninggalkan gereja asal mereka (gereja etnik). Saya tidak mengetahui ketepatan hasil riset ini, tetapi saya kira kenyataannya jelas, yaitu sejumlah besar anak-anak kita meninggalkan gereja asalnya. Memang ada yang pindah ke gereja lain, tetapi kita pun tahu bahwa sebagian besar meninggalkan iman mereka, sebagaimana dilakukan oleh anak kami sendiri. "Values" atau nilai-nilai yang berlaku di kalangan mereka bertabrakan dengan nilai-nilai yang kita ajarkan di dalam gereja dan pada akhirnya mereka memilih nilai yang berlaku di luar gereja. Sebagai gembala, kita perlu terus menekankan pentingnya menjaga relasi dengan Tuhan Yesus secara pribadi. Kita pun perlu mengingatkan bahwa begitu mereka berkuliah, mereka akan dihadapkan dengan teman yang memunyai nilai kehidupan yang berbeda dengan mereka. Dan, itulah saat dimana mereka akan harus memilih manakah yang akan mereka pilih.
Mungkin inilah yang dapat saya bagikan, Bapak R.L.
Salam : Paul Gunadi


JUDUL – JUDUL REKAMAN TELAGA BERSAMA Bp.HEMAN ELIA, M.Psi. sebagai Narasumber dan Penanya
T 081 Rasa Malu dan Rendah Diri / Rasa Malu dan Rasa Bersalah
T 086 Ambisi / Post-Power Syndrome
T 088 Bagaimana Menghadapi Stres? / Bagaimana Membantu Anak Menghadapi Stres?
T 091 Membentuk Kebiasaan Baik / Menang Dari Kebiasaan Buruk
T 095 Kecerdasan dan Test Kecerdasan / Meningkatkan Kecerdasan
T 102 Mengajar Anak Berdoa / Aku Punya Adik
T 105 Membantu Anak Bergaul / Anak dan Temannya
T 106 Anak Nakal / Anak Sulit Belajar
T 109 Rasa Bersalah Orang Tua / Perilaku Manipulatif Anak
T 113 Memuji Anak / Hadiah Buat Anak
T 119 Orang Tua Overprotective / Memberi Kepercayaan Pada Anak
T 120 Menghukum Anak / Mengoreksi Perilaku Anak
T 123 Ironi – Ironi Imam Eli / Orang Tua Otoriter?
T 145 Mengapa Anak Menjadi Agresif? / Menghitung Pengorbanan Orang Tua
T 150 Makna Kematian Buat Anak / Bersahabat dengan Remaja
T 164 Membantu Anak Mengendalikan Diri / Pembelaan Diri dan Pengembangan Diri
T 171 Mengajarkan Kepatuhan / Mengajar Anak Berani Menolak
T 173 Konsep Diri / Membangun Konsep Diri Anak
T 217 Mengendalikan Diri Sejak Dini / Menyatakan Kasih Kepada Anak
T 218 Memelihara Rutinitas dalam Keluarga / Kecanduan Internet
T 219 Pengakuan akan Kelemahan Diri / Seni Memberi
T 447 Mekanisme Pertahanan Diri (A+B+C+D+E+F)
Renungan