Kepribadian Dependen

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T519A
Nara Sumber: 
Ev. Sindunata Kurniawan, M.K.
Abstrak: 
Gangguan kepribadian dependen dimiliki mereka yang memiliki kebutuhan berlebih untuk diperha- tikan, mendorong mereka untuk menjadi patuh, bergantung dan takut terhadap perpisahan.. Anak bertumbuh dengan penghargaan diri yang rendah, sehingga mereka bersandar pada orang lain untuk mendapatkan arahan dan dukungan. Penanganan kepribadian dependen lebih menjanjikan perubahan positif. Kebanyakan orang berkepribadian dependen termotivasi untuk berubah.
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan
Kasus

Seorang wanita belum pernah hidup sendiri. Tetap tinggal di rumah sepanjang hidup. Dikenal teman sekelas sebagai seorang yang bergantung. Meminta orang lain untuk memilihkan, termasuk mata kuliah. Berpacaran dan menikah dengan pria yang dominan, sehingga bebas dari tanggung jawab memutuskan sesuatu. Selalu ikut kata suami, meski tak setuju sebenarnya. Sisi lain kritikan suami dan teman-teman dapat membuatnya merasa tertekan dan kesal sepanjang hari.

Bahasan

Gangguan Kepribadian Dependen dimiliki mereka yang memiliki kebutuhan berlebih untuk diperhatikan yang mendorong mereka untuk menjadi patuh, bergantung dan takut terhadap perpisahan sebagaimana ditunjukkan oleh lima atau lebih hal-hal berikut.

  1. Kesulitan membuat keputusan sehari-hari tanpa nasihat dan kepastian
    Sangat tergantung dan pasif, sehingga mereka mungkin menerima kebalikan dengan apa yang mereka inginkan, karena orang lain menjadi tidak sabar menghadapi ketidakmandiriannya. Merasa yakin bahwa mereka tidak cukup baik, mereka bahkan tidak dapat membuat keputusan yang paling sepele bagi diri mereka sendiri.
  2. Kebutuhan terhadap orang lain untuk mengambil alih tanggung jawab bagi sebagian besar area kehidupan
    Kita mengenalnya sebagai seorang yang sangat bergantung. Tanpa orang lain di sekitarnya, merasa sedih dan terabaikan. Terperangkap dengan rasa takut bahwa orang terdekatnya akan meninggalkannya.
  3. Kesulitan mengekspresikan ketidaksetujuan dengan orang lain karena takut kehilangan dukungan atau penerimaan
    Sangat ekstrem untuk menghindari tidak disukai orang lain. Akan setuju saja dengan pendapat orang lain walau sebenarnya pikirannya mengatakan pendapat orang lain tersebut salah.
  4. Kesulitan memulai suatu tugas atau proyek karena rendahnya kepercayaan diri dalam hal penilaian atau kemampuan
  5. Kecenderungan untuk mendapatkan dukungan dan pemeliharaan dari orang lain, hingga tingkatan ketika ia bersedia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan
    Bisa mengambil alih tanggung jawab yang dihindari orang lain demi orang lain akan menyukai dan menerimanya.
  6. Merasa tidak nyaman atau tidak mampu ketika sendirian karena merasa takut tidak mampu merawat orang lain
  7. Mencari hubungan lain sebagai sumber harapan dan dukungan segera setelah suatu hubungan berakhir
    Jika seseorang mengkritiknya, cenderung merasa hancur. Cenderung melemparkan diri sepenuh hati dalam sebuah hubungan. Ketergantungan yang ekstrem tersebut menyebabkan mereka segera mencari hubungan lain untuk mengisi kekosongan yang mereka rasakan.
  8. Terjebak dalam ketakutan untuk ditinggalkan dan harus mengurus dirinya sendiri.
Asal Muasal dan Dinamika

Orangtua yang terlalu terlibat atau sebaliknya orangtua yang melalaikan kebutuhan anak untuk bergantung pada mereka. Model keluarga dengan kontrol yang tinggi pada anak dan rendah dalam memandirikan anak. Anak bertumbuh dengan penghargaan diri yang rendah, sehingga membuat mereka bersandar pada orang lain untuk mendapatkan arahan dan dukungan. Kurang asertif dan memiliki rasa cemas untuk membuat keputusan sendiri. Memercayai diri tidak cukup baik dan tidak cukup mampu untuk mengatasi masalahnya sendiri. Maka, tumbuh pemahaman bahwa solusi utama adalah dengan menemukan orang lain yang akan menopang dan membebaskannya dari kewajiban untuk membuat keputusan sendiri.

Penanganan

Berbeda dengan rata-rata gangguan kepribadian, penanganan gangguan kepribadian dependen lebih menjanjikan perubahan positif. Kebanyakan orang berkepribadian dependen termotivasi untuk berubah. Lewat proses konseling yang terstruktur, klien mempraktikkan peningkatan level kemandirian dalam kegiatan sehari-hari. Mempelajari bagaimana mengenal wilayah kemampuan yang masih kurang dan mendapatkan kemampuan yang diperlukan untuk meningkatkannya. Sisi lain konselor perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada pengalihan menjadi figur otoritas baru untuk klien bergantung.

Pengasuhan Anak

Dari lahir hingga usia 12 tahun membangun fondasi rasa aman lewat kelekatan dan konsistensi orangtua, dan bertahap mulai usia 2 tahun ke atas untuk mengizinkan anak memilih dalam pilihan yang terbatas di tahapan membangun otonomi anak. Berlanjut hingga lulus masa SD. Semakin usia bertambah, semakin memberi kebebasan pada anak untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri. Semakin lebih banyak berdiskusi, terlebih ketika memasuki masa SMP dan SMA. Bisa dipertimbangkan untuk mengizinkan anak di usia SMA untuk bersekolah di luar kota, terlebih lagi ketika berkuliah atau bekerja.