Hidup Berbeda

Versi printer-friendly
Kode Kaset: 
T261B
Nara Sumber: 
Pdt.Dr. Paul Gunadi
Abstrak: 
Hasil riset di Amerika memerlihatkan bahwa sebagian besar anak-anak yang bersekolah Minggu, pada masa dewasanya tidak lagi bergereja. Dan kita pun tahu selama hampir 2000 tahun, benua Eropa dan Asia Kecil merupakan pusat kekristenan namun sekarang tidak lagi. Bagi banyak orang, Tuhan tidak lagi relevan dan tidak layak dipikirkan, apalagi diyakini. Tuhan tidak meminta kita untuk memisahkan diri dari lingkungan namun Tuhan memerintahkan kita untuk hidup berbeda dan tidak menuruti pola hidup dan iman yang berbeda. Apa yang bisa dilakukan agar kita sebagai umat Tuhan hidup berbeda?
Audio
MP3: 
Play Audio: 
Ringkasan

"Mereka tidak memunahkan bangsa-bangsa seperti yang diperintahkan Tuhan kepada mereka, tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa dan belajar cara-cara mereka bekerja. Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka yang menjadi perangkap bagi mereka." (Mazmur 106:34-36)

Hasil riset di Amerika memperlihatkan bahwa sebagian besar anak-anak yang bersekolah Minggu, pada masa dewasanya tidak lagi bergereja. Sekali lagi hasil riset ini memperlihatkan betapa sulitnya menjaga dasar yang telah diletakkan dan betapa kuatnya pengaruh lingkungan. Begitu anak-anak menginjak bangku kuliah, sesungguhnya hanya tinggal setengahnya yang masih bergereja.

Erosi nilai dan iman kepercayaan tidak terjadi dalam sekejap. Selama hampir 2000 tahun benua Eropa dan Asia Kecil merupakan pusat kekristenan namun sekarang tidak lagi. Bagi banyak orang, Tuhan tidak lagi relevan dan tidak layak dipikirkan, apalagi diyakini. Tuhan tidak meminta kita untuk memisahkan diri dari lingkungan namun Tuhan memerintahkan kita untuk hidup berbeda dan tidak menuruti pola hidup dan iman yang berbeda.

Roma 12:1-2 memberi kita petunjuk bagaimanakah kita hidup berbeda:
"Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persemabahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan: manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna."
  1. Kita hanya dapat hidup berbeda bila pertama-tama kita mempersembahkan hidup kepada Kristus, Tuhan kita. Dengan kata lain, kita mesti bertekad untuk hanya hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menjalani misi-Nya. Fokus kita hanyalah Dia dan tidak ada lagi selain Dia. Kadang sebagai orangtua kita gagal menekankan hal ini; kita memandang hal rohani sebagai salah satu hal dalam hidup belaka, bukan sebagai bagian terutama dari hidup. Alhasil anak bertumbuh besar memiliki pandangan yang serupa-bahwa Tuhan hanyalah bagian dari sejumlah pilihan dalam hidupnya. Anak-anak seperti inilah yang rentan terhadap erosi rohani ketika menginjak usia dewasa.
  2. Tuhan meminta kita untuk tidak serupa dengan dunia ini. Istilah dunia di sini merujuk kepada pola hidup atau roh dari dunia yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Namun untuk dapat berbuat demikian, pertama-tama kita harus tahu terlebih dahulu apa itu yang menjadi pola hidup dunia. Sebagai orangtua kita mesti menjelaskan kepada anak akan pola dunia dan mengapa pola dunia ini tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Berikut adalah beberapa pola dunia yang berseliweran di sekitar kita:
    1. Bahwa hidup bergantung sepenuhnya pada kita, bukan Tuhan. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat kita lupa bahwa pada akhirnya nafas ini pun adalah pemberian Tuhan dan bahwa kepandaian adalah karunia Tuhan belaka.
    2. Bahwa semua kepercayaan adalah baik dan sama di mata Tuhan. Pertanyaannya adalah, jika sama, mengapa harus ada begitu beragam dan berlainan?
    3. Bahwa terpenting adalah kebahagiaan dan bahwa Tuhan sesungguhnya ingin kita memiliki kebahagiaan. Jadi, faktor dosa atau melakukan sesuatu yang melawan Tuhan menjadi tidak relevan sebab semua diukur dari bahagia.
    4. Bahwa semua nilai moral relatif sebab semua tergantung pada bagaimanakah kita melihatnya. Singkat kata, benar-salah semua adalah masalah persepsi belaka.
  3. Tuhan memerintahkan kita untuk berubah dalam cara pikir. Dengan kata lain, kita harus mengadopsi nilai yang baru dan sudut pandang yang berbeda. Kita harus memahami bagaimanakah Kristus Tuhan kita memandang semuanya dan berusaha sekuat tenaga menerapkannya dalam hidup. Jadi, kendati bagi dunia, kita hanya akan dipandang kuat bila kita berani membalas, namun Tuhan memerintahkan kita untuk tidak membalas. Malah Tuhan meminta kita untuk berdoa bagi yang menyakiti kita. Jadi, sebagai orangtua kita harus mendorong anak untuk menerapkan Firman Tuhan dalam hidupnya dan memandang hidup dari lensa Tuhan.
  4. Firman Tuhan menegaskan bahwa perubahan baru terjadi ketika kita berupaya keras keluar dari pola dunia dan mempersembahkan hidup kepada Kristus. Mungkin ada waktunya ia mengalami pergolakan; dengarkan dan berilah dorongan namun jangan memarahinya. Kuncinya adalah menjalin relasi yang terbuka dengannya agar kita dapat memantau dan mengarahkan pertumbuhan rohaninya.